Siapa di sana? Danny? Aku membatin melihat sesosok yang sangat kukenal. Posturnya, gaya rambutnya, lesung di pipinya ketika ia tertawa. Tapi, mengapa ia begitu jauh dan bercahaya? Tidak seperti terakhir kali kuingat.
Ia memakai tuksedo, sangat bukan gayanya. Tuksedonya hitam, indah seperti yang kulihat di televisi. Ia berjalan ke arahku, semakin lama semakin dekat. Jantungku berdegup semakin kencang, seperti waktu SMA.
“Tatja. Kemana saja?” tanyanya dengan nada sedikit mencemooh.
Aku ingin menjawabnya. Aku membuka mulut dan mulai berbicara. Tepatnya, mulai ingin berbicara. Kenyataannya, yang keluar dari mulutku tidak ada. Aku seperti ikan mas koki sedang ditarik keluar dari air. Megap – megap.
Ia mengulurkan tangannya. Aku tidak dapat meraihnya.
“Sama seperti dua tahun lalu ya Tatja, kau belum banyak berubah,” Gabby berdiri di sana, di samping Danny. Bagaimana? Gabby adalah teman kuliahku, sudah tentu ia tidak mengenal high school crush ku itu. Tetap, dia ada di sama, berlagak sok tahu, seperti biasa. “Selalu mengeluh tidak punya kesempatan, tetapi ketika dikasih kesempatan, kamu mundur.”
Aku merasakan wajahku memerah karena marah dan kesal dipermalukan seperti itu di depan Danny. Atau lebih tepatnya, cemburu ketika dengan asyik Gabby menggelayuti lengan Danny. Mereka berjalan menjauh sambil tertawa dengan riang. Tiba – tiba aku sadar bahwa Gabby memakai gaun pengantin putih, panjang, dengan veil yang sama panjangnya.
Lantai berubah menjadi keramik putih dan muncul karpet merah memanjang kearahku. Di samping kursi – kursi oak seperti muncul dari tanah, lengkap dengan orang – orang yang duduk di atasnya. Ruangan memanjang ke atas, langit – langit mulai terlihat, terlukis gambaran bayi – bayi malaikat dengan sayap – sayap kecil mereka. Langitnya digambar biru dengan awan putih dan matahari di sana – sini. Tidak yakin mengapa mereka harus menggambar begitu banyak matahari.
Oh Tuhan, tidak.
Tiga anak kecil dengan keranjang kayu dan bergaun pink muda menabrakku dari belakang. Aku terhuyung tapi tidak jatuh. Mereka tertawa riang sembari menaburkan kelopak mawar putih ke seluruh ruangan.
Salah satunya menengok ke arahku dan berbalik arah. Ia menarik tanganku untuk berjalan. “Kakak Tatja, tidak jadi menikah dengan abang Danny?”
“Tatja, alarmmu bunyi terus. Kau seharusnya bangun atau apa, sih?” Vanja, adik perempuanku, membangunkanku.
Ternyata cuma mimpi.
Aku melihat layar handphone ku sebelum pandanganku mengabur karena tangis. Senin, tanggal genap.
***
Aku mulai mendapat mimpi ini sejak dua tahun yang lalu. Tepatnya, setelah di hari Danny pergi untuk kuliah di tempat yang berbeda denganku. Jaraknya memang tidak terpisah Negara, tetap saja, berbeda tempat yang membutuhkan waktu empat belas jam jika ditempuh dengan kereta api.
Aku ingat ketika Danny memutuskan untuk kuliah di sana. Tepat ketika aku diterima di sini. Waktu itu petang hampir tiba namun ada sesuatu yang membuat kami sepertinya enggan beranjak dari ruangan choir tempat aku berlatih dengan paduan suara sekolah.
Aku sedang berlatih piano sendirian ketika ia masuk. Ia member tanda untuk memintaku tetap bermain piano sementara ia menarik kursi dan bersender ke sisi piano. Tidak ada yang mengatakan apapun tetapi kami berdua tahu pasti ini pembicaraan mengenai apa.
Sampai aku tidak kuat lagi bermain karena ingin menangis, aku berhenti, menutup piano dan menoleh padanya, memberikan tatapan penuh pertanyaan. Ia balik menatap dan tidak menjawab. Ia menarik secarik kertas dan mulai mencoret – coret.
“Tadi nada lo banyak salahnya. Gemeteran?”
Aku mengacuhkannya. “Stop deh Dan. Ada apa? Kok belom balik?”
“Lo mau oleh – oleh apa semester depan pas gue balik?” tanyanya dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Pede. Emang diterima?”
Ia menyodorkan padaku print out yang menyatakan ia diterima. Aku memang berusaha tidak menaruh banyak keingintahuan, tetapi aku sadar bahwa pengumumannya hari ini. Beberapa sahabatku diterima di sana.
Aku menatap kertas yang sudah agak lusuh itu lekat – lekat. Menyusuri setiap lipatan yang membuatnya lemah seakan sebentar lagi robek saking seringnya dilipat dan dibuka dalam sehari ini,. Lalu aku menatapnya, lemah karena ingin mengatakan jangan pergi dan bangga karena ia diterima di universitas yang hebat.
Mengerti bahwa aku tidak bisa mengeluarkan ekspresi yang tepat, ia menarikku berdiri. “Pulang yuk,” ajaknya. “Tapi udah mau maghrib. Lo solat dulu aja gue tungguin di bawah.” Lanjutnya ketika kami di luar ruangan.
Aku masih diam saja, salting. Sesekali membetulkan rambutku, lalu hening mengantarkan kami ke mesjid sekolah. Aku mencopot sepatu, menuju ruang wudhu, kemudian naik ke bagian perempuan. Perlahan aku memakai mukena dan melongok ke bawah, melihatnya duduk di tangga, menungguku shalat.
Tak lama kemudian, kami sudah berjalan di keheningan yang sama. Entah aku atau Danny yang memulainya, tapi pada waktu itu kami berdua yakin keheningan ini adalah yang terbaik. Aku, tidak mengerti harus merespon apa, terutama karena Danny, bukan pacar, dia lebih dari itu. Suatu status yang tidak pernah diungkapkan.
Ketika mendekati gerbang, aku akhirnya berani menatapnya. Menata suaraku agar tidak terdengar parau dan aneh.
“Cokelat rasa petis,” aku memecah keheningan.
“Apa?”
“Oleh – oleh dari lo semester depan. Gue mau itu katanya lagi nge hip disana,” jawabku enteng, seolah – olah dia pergi hanya untuk liburan.
Memoriku terbang ke dua tahun lalu, dimana semua mimpi ini belum dimulai. Seingatku kami setelah itu menertawakan bagaimana konyolnya orang dapat menciptakan cokelat rasa petis udang. Kami baik – baik saja. Berarti aku harus maju sedikit, mengambil potongan puzzle bagaimana memori berubah jadi mimpi buruk yang datang hampir setiap malam.
